Aku sungguh orang yg tak bisa memegang komitmen. Padahal aku sudah berjanji untuk menulis blog ini setiap hari tapi pada akhirnya aku hanya menulis pada saat aku mau saja. Dan kebetulan sekarang aku mau.
Oke, jadi hari adalah 3 hari sebelum hari UN. Seperti biasa diadakan pekan tenang yg sebenarnya hanya 3 hari dan bukan pekan sama sekali. Semua orang akan menghabiskan pekan tenang dengan bermain dan berjalan-jalan. Semua itu dianjurkan oleh hampir semua orang hanya karena mereka dianggap sudah bekerja keras untuk mempersiapkan UN. Tapi bagaimana jika ada yg belum mempersiapkan diri sama sekali? Contohnya, aku.
Aku merasa esensi dari belajar lalu bermain lalu ujian bukanlah urutan pembelajaran yg efektif. Karena kebanyakan orang seringkali terlena dengan permainannya dan pada akhirnya lupa dgn apa yg telah dipelajari sehingva harus belajar lagi. Atau tidak lupa pada pelajarannya pun pada akhirnya mereka pasti akan belajar lagi. Jadi daripada seperti itu bukankah lebih efektif bermain dulu lalu belajar terus sampai ujian dimulai? Tapi orang memiliki caranya masing-masing dan nampaknya kebanyakan orang tidak setuju dengan caraku.
Sisi yg menyebalkan dari hari-hari menjelang UN lainnya adalah bagaimana orang-orang bersikap. Tiba-tiba saja mereka jadi baik, jadi menyapa walau biasanya tidak pernah menyapa, jadi sadar akan kesalahannya sendiri, jadi minta maaf padahal merasa tidak punya kesalahan, jadi suka mendoakan padahal biasanya tak pernah ingat orang yg didoakan itu, jadi suka berharap akan bersama nantinya walau tidak pasti juga ketika mereka bersama akan jadi teman lagi.
Hal lain yg menyebalkan adalah acara salinginta maaf dan memaafkan. Dari dulu aku selalu berpikir bahwa jika kalian benar-benar teman maka seharusnya tanpa meminta maaf pun sudah bisa memaafkan kesalahan temannya. Tapi orang-orang merasa bahwa kita harus minta maaf. Hakikat meminta maaf di hari-hari terakhir menuju UN pun penuh celah. Kalau orang-orang benar-benar merasa bersalah dan ingin dimaafkan kenapa mereka semua menunggu H-sekian UN dulu baru minta maaf berjamaah? Kenapa tidak dari dulu saja minta maafnya? Jika begini, rasanya jadi seperti dia minta maaf ke kita hanya agar UN-nya dilancarkan bukan karena dia merasa benar-benar membutuhkan kita. Bukankah itu sama saja dengan teman yg datang hanya di saat dia butuh saja?
Tapi jika aku mengatakan hal ini secara terus terang di depan orang-orang nampaknya aku hanya akan mendapat amukan massa.
Walau begitu mungkin kehadiran orang-orang biasa memang sangat dibutuhkan di kehidupan sehari-hari karena jika semua orang memiliki cara pandang yg sama denganku maka hidup pasti membosankan. Aku tidak suka menjadi mayoritas.
No comments:
Post a Comment