Sebagai pengetahuan saja tapi aku mengirim post ini dgn sekuat tenaga. Lagi-lagi akunku berulah dan aku harus mengurus pergantian akun dan lain-lain. Dan di sinilah aku sekarang mengetik menggunakan hpku yg hanya 3 inci. Sebagai pengetahuan tambahan, aku hanya dapat melihat setengah dari layar jadi tolong maklumi kalau aku melakukan typo.
Sebenarnya cerita menarikku terjadi kemarin. Tapi kemarin aku lupa menulis. Jadi yg tersisa hanya hari ini, hari yg membosankan.
Hal yg masih aku pikirkan adalah kejadian tadi siang di sekolah. Di kelasku ada seorang anak perempuan. Aku tidak benci-benci amat sih ke dia. Hanya saja dia benar-benar memenuhi kriteria orang yg akan kubenci. Penyontek, perokok, & aku tidak tahu dia buang sampah sembarangan atau tidak tapi aku pernah melihatnya membuang puntung rokok di jalan jadi kubuat konklusi bahwa dia tidak begitu peduli pada lingkungan a.k.a. dia bisa saja kan buang sampah sembarangan. Walau begitu sisi baik yg ada pada dirinya adalah... dia keren? Sesuatu yg takkan pernah kumiliki. Aura keren yg dimiliki orang-orang populer.
Jadi, gadis ini seringkali mengucapkan kalimat-kalimat yg seperti srngaja diucapkan untuk menarik perhatian. Kadang aku tidak begitu peduli dan walau pun aku sebal aku hanya memendamnya dalam hati. Munglin tadi aku berada dlm mood yg bagus. Lalu aku biarkan mulut kasarku berpkkir. Dia bilang bagaimama rasanya hidup sendiri. Pertanyaannya jelas di sini sangat tidak berbobot dan sampah. Kalau dia benar-benar penasaran, cari tahu saja sendiri. Sebenarnya ini bukan hal yg bisa dicari tahu sih since sejak awal kita memang sudah selalu sendirian. Harusnya sih begitu pikirky. Tapi mulut bodohku malah bilang kalau dia sok selalu hidup berdua. Memang benar sih aku berpikir begitu tapi kesalahannya adalah aku mengatakannya ke khalayak ramai. Lalu moodnya pun nampak ganjil bagiku.
Aku tidak membencinya. Aku juga tidak mau jadi musuhnya. Malau bisa aku tidak ingin memiliki musuh. Tapi hidup tak pernah bagus. Siapa yg tahu bahwa ternyata seisi seolah membenciku atau bahkan sahabatku sendiri mencoba menyusun rencana backstab sambil mengalihkam perhatianku dgn berpura-pura menjadi temanku.
Intinya aku masih penasaran apakah aku membuatnya marah. Aku memang sudah minfa maaf dan anak lain bilang tidak usah minta maaf dia memang pantas mendapatkannya. Tapi tetap saja hati kecilku yg bodoh menuntut aku untuk cemas.
Tidak rame. Post ini sangat tidak rame. Tadi sore aku memang merasa marah dan so fucked up. Tapi aku rasa kalau marah disimpan ternyata bisa lega juga.
Membaca post ini sungguh a waste of time. Maaf.
No comments:
Post a Comment